Pengalaman Pertama Bekerja di Ruang Gawat Darurat Rumah Sakit

Awal karir saya menjadi soerang dokter. Apalagi langsung bertemu dengan pasien dan mengobati dengan terapi sendiri terjadi saat menjalani masa internsip. Yaitu pertama kali, selama waktu empat bulan di instalasi gawat darurat (IGD). Tepatnya pada saat memasuki masa bulan pertama dan di bulan-bulan berikutnya. Banyak sekali hal-hal yang berkesan.


dari kiri ke kanan : si penulis, dokter Ana, dokter Dini, dokter Ica, dokter Mimi, dan dokter Ari.
Berada tepat di depan pintu IGD RSUD Rantauprapat.
Sumber foto : dokumentasi masa-masa internsip periode 2018-2019.

Bulan pertama

Sejujurnya saya masih merasakan yang namanya deg-degan, takut, dan panik saat mendengar suara sirine ambulance yang bertalu-talu dan sudah terdengar dari jarak ± 15 meter dari rumah sakit tempat saya bertugas. Apalagi jika pasien datangnya saat larut malam, saya auto tidak tidur. Lebih tepatnya nightmare disorder. Selain itu juga, ketika pasien datang ke rumah sakit beserta keluarganya yang riyuh, dan harus langsung ditangani segera dengan berbagai jenis penyakit ditambah dengan khas logat daerah-nya. Apalagi abang-kakak perawat juga harus segera meminta terapi apa saja yang harus dimasukkan terhadap pasien. Membuat awal-awal kehidupan masa internsip yang penuh mendebarkan.

Seperti 'kertas kosong' . Saya merasa bahwa ilmu teori dan praktek masih kurang atau noob di awal bulan di IGD. Dari hati lubuk yang paling dalam, saya masih ingin terus dibimbing minimal satu bulan. Benar saja. Di awal bulan, saya pernah beberapa kali ditegur oleh pembimbing saya yang ketika itu adalah Dokter Nauli. Tetapi masalah ini bukan karena saya salah dalam tindakan medis, melainkan salah mengirim pasien ke dokter penanggung jawab pasien (DPJP). Saya belum terbiasa dengan jadwal dokter spesialis saat itu dan menurut saya ketika itu 'hanya hal lumrah' namun yang terjadi ketika itu adalah antar DPJP tidak terima dengan kesalahan dalam hal transfer pasien tersebut.

Tak hanya sampai disitu saja, kesalahan saya yang lain adalah salah dalam membaca tulisan resep dokter. Alhasil saya menuliskan resep yang seharusnya obat A namun yang diberi obat B. Sudah jatuh tertimpa tangga, ternyata sang pasien masih memiliki obat-obatan yang diresepkan tadi. Sebagai konsekuensi yang saya terima adalah saya bertanggung jawab dengan mengganti obat yang sudah dibeli oleh keluarga pasien di apotik. Lumayan juga harga obat itu walau diganti sekitar setengah harga normal karena kondisi obat belum dalam keadaan terbuka.

Dokter Nauli memperingatkan kepada saya bahwa di rumah sakit ini terdapat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang melihat kinerja pegawainya di rumah sakit. Jadi, apapun tindakan kita harus berhati-hati agar kejadian tidak baik tidak akan terulang lagi di kemudian hari. Ya, bagi saya ini dunia baru. Saya harus berlapang dada menerima kejadian ini. Saya bersyukur bahwa kejadian ini sesungguhnya mengajarkan saya langsung mengenai tindakan yang sigap, teliti, dan bertanggung jawab di kemudian hari.

Bulan kedua

Saya mulai menikmati atmosfir IGD. Saya juga sudah terbiasa dengan jadwal jaga siang-sore-malam. Apalagi mendengar suara sirine ambulance. Saat-saat dibangunkan tengah malam. Bertemu keluarga pasien. Menemukan banyak penyakit yang mulai terbiasa dalam hal anamnesis, pemeriksaan fisik, dan menulis resep. Saya mencoba untuk tidak lagi dibimbing oleh kakak-abang senior dokter IGD.

Bulan ketiga.

Saya hampir melakukan kesalahan ketika ada pasien anak-anak datang dengan keluhan kejang demam. Dibawa oleh keluarganya sambil panik. Yup, saya pun saat itu juga ikut panik. dan yang terjadi adalah saya nyaris membuat pasien tersebut wafat. Karena panik, saya langsung memberikan obat injeksi Diazepam satu ampul. Pasien langsung terdiam. Saya coba menelepon abang senior IGD. Ia pun tergesa-gesa melihat kondisi pasien. Dan memerintahkan kakak perawat untuk memberi oksigen. Lagi dan lagi, saya diperingatkan untuk tidak lagi panik, tenangkan pikiran maka segalanya berhasil, kata abang senior tadi.

Bulan keempat.

Masa-masa mulai menghirup udara segar dan saya merasa bebas. Karena saya merasa 'drama' akan segera berakhir. Menjalani sisa-sisa waktu di IGD. Namun, saya selalu bersyukur dengan pengalaman pertama menjadi dokter di sebuah rumah sakit. Apalagi dimulai dari IGD. Jujur sekali, ilmu praktek disini bisa diterapkan. Banyak kasus-kasus penyakit yang bisa dipelajari. Semua ini akan saya bawa kemanapun saya mengabdi dan berniat dengan tulus untuk membantu pasien-pasien kembali sehat dan bisa beraktifitas seperti sediakala.

Bagi saya hal ini adalah pengalaman  kesalahan bermula dan menjadi guru yang terbaik.

"Jangan pernah untuk menyerah. Teruslah untuk belajar. Jangan pernah untuk menyesal. Bersyukurlah dengan segala pengalaman yang kita dapatkan." - Yogi Hobi Nulis

Comments