Pengalaman Pertama Bekerja di Ruang Gawat Darurat Rumah Sakit
Awal karir saya menjadi soerang dokter. Apalagi langsung bertemu dengan pasien dan mengobati dengan terapi sendiri terjadi saat menjalani masa internsip. Yaitu pertama kali, selama waktu empat bulan di instalasi gawat darurat (IGD). Tepatnya pada saat memasuki masa bulan pertama dan di bulan-bulan berikutnya. Banyak sekali hal-hal yang berkesan.
Bulan pertama.
Sejujurnya saya masih merasakan yang namanya deg-degan, takut, dan panik saat mendengar suara sirine ambulance yang bertalu-talu dan sudah terdengar dari jarak ± 15 meter dari rumah sakit tempat saya bertugas. Apalagi jika pasien datangnya saat larut malam, saya auto tidak tidur. Lebih tepatnya nightmare disorder. Selain itu juga, ketika pasien datang ke rumah sakit beserta keluarganya yang riyuh, dan harus langsung ditangani segera dengan berbagai jenis penyakit ditambah dengan khas logat daerah-nya. Apalagi abang-kakak perawat juga harus segera meminta terapi apa saja yang harus dimasukkan terhadap pasien. Membuat awal-awal kehidupan masa internsip yang penuh mendebarkan.
Tak hanya sampai disitu saja, kesalahan saya yang lain adalah salah dalam membaca tulisan resep dokter. Alhasil saya menuliskan resep yang seharusnya obat A namun yang diberi obat B. Sudah jatuh tertimpa tangga, ternyata sang pasien masih memiliki obat-obatan yang diresepkan tadi. Sebagai konsekuensi yang saya terima adalah saya bertanggung jawab dengan mengganti obat yang sudah dibeli oleh keluarga pasien di apotik. Lumayan juga harga obat itu walau diganti sekitar setengah harga normal karena kondisi obat belum dalam keadaan terbuka.
Dokter Nauli memperingatkan kepada saya bahwa di rumah sakit ini terdapat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang melihat kinerja pegawainya di rumah sakit. Jadi, apapun tindakan kita harus berhati-hati agar kejadian tidak baik tidak akan terulang lagi di kemudian hari. Ya, bagi saya ini dunia baru. Saya harus berlapang dada menerima kejadian ini. Saya bersyukur bahwa kejadian ini sesungguhnya mengajarkan saya langsung mengenai tindakan yang sigap, teliti, dan bertanggung jawab di kemudian hari.
Masa-masa mulai menghirup udara segar dan saya merasa bebas. Karena saya merasa 'drama' akan segera berakhir. Menjalani sisa-sisa waktu di IGD. Namun, saya selalu bersyukur dengan pengalaman pertama menjadi dokter di sebuah rumah sakit. Apalagi dimulai dari IGD. Jujur sekali, ilmu praktek disini bisa diterapkan. Banyak kasus-kasus penyakit yang bisa dipelajari. Semua ini akan saya bawa kemanapun saya mengabdi dan berniat dengan tulus untuk membantu pasien-pasien kembali sehat dan bisa beraktifitas seperti sediakala.
Bagi saya hal ini adalah pengalaman kesalahan bermula dan menjadi guru yang terbaik.
"Jangan pernah untuk menyerah. Teruslah untuk belajar. Jangan pernah untuk menyesal. Bersyukurlah dengan segala pengalaman yang kita dapatkan." - Yogi Hobi Nulis
Comments
Post a Comment