Perilaku Ghibah Dapat Mendatangkan Berbagai Penyakit Hingga Kematian
Disclaimer : Suatu perbincangan antara si A dengan si B yang sedang membicarakan si C yang baru saja membeli sebuah mobil.
Si A : “Neng, si C denger-denger baru saja beli mobil baru loh.”
Si B : “Alah palingan belinya pakai pinjaman online,
yang bikin penasaran ya, kenapa kok tiba-tiba udah nongol aja itu mobil di halaman rumahnya. Kan suaminya juga
kerjanya cuma ojek online.”
Percakapan diatas adalah salah satu contoh dari
perbuatan ghibah. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ghibah
memiliki arti yaitu membicarakan tentang keburukan (keaiban) orang lain. Kata
ghibah sendiri berasal dari bahasa Arab, Ghaaba-yaghiibu,
yang artinya adalah tidak hadir atau tidak tampak. Saat ini, kata ghibah sangat
sering terdengar di telinga dan menjadi viral di dalam kehidupan masyarakat
Indonesia.
Berdasarkan data dari jurnal Social Psychological and Personality Science menyebutkan bahwa, 34
orang dari 467 orang di dalam suatu percakapan adalah mereka yang tidak
melakukan obrolan yang bersifat negatif, sekitar 75% arah percakapan bersifat
netral, dan sebanyak 15% orang-orang melakukan yang namanya ghibah atau obrolan
yang bersifat negatif. Data lain dari sumber yang sama menyebutkan bahwa, kaum
ekstrovert cenderung lebih sering melakukan obrolan yang bersifat negatif
dibandingkan mereka kaum introvert.
Sebuah analisa oleh para peneliti dari University of California (UC) Riverside
mengatakan bahwa, rata-rata setiap orang menghabiskan sekitar 52 menit dalam
satu hari untuk membicarakan sesuatu antar pembicara. Hal ini menandakan bahwa,
sebagai makhluk sosial, kita harus berbicara bersama orang lain karena kita tidak
hidup sendirian. Namun terkadang, kita membicarakan tentang orang lain yang
tidak ikut dalam suatu percakapan.
Ghibah sering diartikan bermakna negatif karena
melekat dengan kegiatan mencari-cari kesalahan atau kelemahan orang lain.
Ghibah bisa terjadi pada siapapun dan apapun latar belakangnya, termasuk genre
seksual seseorang. Faktanya, sebuah studi
observasi pada tahun 1993 menyurvei bahwa kaum pria dapat menghabiskan 55%
waktu percakapan dalam satu kali pertemuan, sedangkan sebanyak 67% kaum wanita
menghabiskan waktunya untuk melakukan percakapan. Hal ini sejalan dengan Megan Robbins dari UC Riverside, bahwa semua orang melakukannya.
Masyarakat Indonesia mungkin beberapa mengenal dan
tidak asing lagi dengan sosok wanita bernama Bu Tejo. Mungkin saja, Bu Tejo
adalah perwujudan dari kegiatan obrolan orang Indonesia saat bertemu satu sama
lain. Ya, secara personal Bu Tejo terkenal dengan mulutnya yang julid atau suka ber-ghibah.
Dampak ghibah bisa terjadi pada siapapun, baik orang
yang disukai maupun orang yang tidak disukai. Salah satu dari banyaknya
penyebab timbulnya ghibah adalah adanya penyakit pada hati yang bernama iri dan
dengki. Inilah yang menjadi asal-muasal seseorang merasa cemas apabila melihat
keberhasilan orang lain dengan kata lain, “Senang melihat orang lain susah dan
susah saat melihat orang lain senang.” Sejalan dengan itu, penelitian yang
dilakukan oleh Department of Psychology,
Mercer University, dikenal dengan schadenfreude, “Sukacita dalam
kerugian.”
Secara psikologi, penelitian yang dilakukan di Emory University mengatakan bahwa
terlalu sering atau sangat suka melihat orang lain susah menunjukkan
kecenderungan ciri psikopat. Sikap ini mengakibatkan penderitanya berujung pada
sikap antisosial, suka melanggar aturan, hingga melakukan tindakan kriminal,
termasuk kekerasan.
Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO),
definisi sehat yang sesungguhnya adalah dimana seseorang memiliki kondisi yang
sempurna baik fisik, mental, sosial, serta terbebas dari segala penyakit atau
kecacatan. Ghibah sudah dapat dipastikan bukanlah golongan orang yang dalam kondisi
sehat. Kecemasan yang disebabkan oleh ghibah sendiri dapat berkembang menjadi
gejala fisik yang berisiko memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian dari University of Illinois, Amerika Serikat, menemukan bahwa suasana
hati yang positif dapat mengurangi hormon pemicu stres dan dapat dapat
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh seseorang. Sedangkan ghibah timbul dari
hati dan pikiran yang negatif sehingga dapat mendatangkan berbagai penyakit.
Pakar dari Universitas Padjajaran, Bandung, menyatakan
bahwa faktor yang memengaruhi kualitas hidup seorang penderita yang terkait
dengan adanya perasaan cemas adalah yang paling tinggi risiko terjadinya penyakit
jantung koroner.
Ditinjau dari ilmu kedokteran, pikiran negatif dapat
menyebabkan seseorang dengan denyut jantung meningkat, tekanan darah meninggi,
dan juga memengaruhi suhu tubuh seseorang yang melebihi dari suhu tubuh normal.
Tekanan darah meningkat atau hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah kecil
menyempit secara tidak normal. Tekanan darah yang meninggi juga dapat mengalami
gangguan pembekuan darah. Sehingga terjadi thrombosis
atau pecahnya pembuluh darah. Hal ini cukup mencemaskan karena penderitanya
dapat terkena serangan jantung dan kematian mendadak.
Selain mengganggu fungsi jantung, hipertensi dapat
menimbulkan terjadinya perdarahan di suatu pembuluh darah serebral (otak) dan
kerusakan jaringan otak. Jika ini sudah terjadi, maka seseorang tadi mengalami
penyakit stroke. Keluhan dari stroke yang paling khas adalah mengalami gangguan
neurologis berupa kelemahan anggota gerak tubuh dan kelumpuhan.
Hipertensi juga dapat menimbulkan kerusakan pada
fungsi ginjal. Fungsi ginjal yang paling utama adalah dapat mengeluarkan cairan
tubuh esensial berupa urin melalui saluran glomerulus dan dialirkan ke saluran
pembuangan air seni. Jika sudah mengalami kerusakan dari salah satu atau bahkan
kedua ginjal, maka cairan tubuh tadi akan menumpuk di dalam ginjal. Kejadian ini
disebut dengan hidronefrosis. Jika ginjal bermasalah, maka jantung juga ikut
bermasalah. Pasalnya, selain kedua organ tubuh saling berdekatan, fungsi
keduanya juga tidak dapat dipisahkan karena sama-sama mengalirkan cairan di
dalam tubuh manusia. Jantung pun akan membesar menjadi kardiomegali. Nyawa
seseorang akan terancam apabila hal ini terjadi.
Dari fakta diatas, dapat kita simpulkan bahwa kesehatan
tubuh seorang manusia erat kaitannya dengan apa yang terjadi di dalam hati dan
pikiran. Jika hati dan pikiran sudah tidak baik maka kondisi tubuh seseorang
juga tidak baik. Semua ini bisa muncul dari perbuatan ghibah. Diawali dengan
cemas melihat orang lain, lalu memengaruhi kondisi biomedis seperti tekanan
darah meningkat, lalu menyerang beberapa organ target seperti jantung, ginjal,
serta otak, dan berakhir dengan timbulnya berbagai penyakit hingga mengancam
nyawa.
Tag: Ikut lomba april 2022 artikel @masukPTN dan @mediaedukasi.id
Comments
Post a Comment